Translate

Minggu, 15 Juli 2012

Sadarkah Diri Kita Ini ?

Sadarkah Diri Kita Ini ?

Oleh : Muhammad Imam Wahyudi
Tgl : 12 Juli 2012
Di jakarta

Jakarta - Sekeras-kerasnya batu dilautan dan sedalam-dalamnya luasnya samudera lautan,pasti akan rapuh juga terkikis oleh benturan air ombak biota alam dunia yang begitu kaya raya dengan hasil buminya.

Urbanisasi selalu berpindah-pindah tempat asalnya jelas dan nyata,keagungan tuhan telah dilimpahkan kepada umatnya untuk menjaga kelestariannya alam budaya kita.

Kita semua harus punya rasa bersyukur,apa ? yang telah dikaruniakan oleh sang pencipta kita yang maha mulia dan adil,kita di hidupkan didunia ini dan akan kembali nanti kepadanya ditanah alam barzah.(12/07/2012)

Namun rasa kebersuyukuran itu tidak pernah kita miliki pada diri kita sendiri,yang kini hanya sebagai kiasan antara"ada dan tiada",tuhan yang menciptakan hewan,manusia,tumbuhan-tumbuhan dan lain-lainnya.Perihal lainnya diciptakan oleh tuhan untuk saling tumbuh untuk berkembang biak secara higenik dari metabolisme kehidupan dunia yang penuh dengan tanda tanya,untuk keterunan genarasi kita nanti mau jadi apa mereka."Nantinya"?.

Keindahan alam harus tercermin pada diri kita,kepada kelestariannya fenomena alam dan budaya,semata-mata ini,kita hanya membohongi ilusi pikiran itu membayangi reprodruksi sel-sel otak untuk memacu lebih keras bekerja dalam pikiran tingkatan tubuh untuk tergerak oleh suatu hipnotis khayalan pemikiran dalam dua benda yang berlawanan antara kutub utara dan kutub selatan,memecahkan satu solusi yang positif berguna untuk kita semaunya dalam berkehidupan.



Tuhan menciptakan kita bukan hanya shalat 5 waktu saja,tapi jika kalau hati kita busuk sama saja tidak mengerjakan kewajiban shalat 5 waktu yang telah diberikan untuk menjalankannya.Sayang sekali hidup manusia di dunia ini penuh dengan misteri kebohongan beragama,"seakan-akan mentabukan dan menyemukan atas keberadaannya".

Hidup penuh dengan kesombangan,hidup penuh dengan kebaikan yang hanya berpura-pura baik saja,hidup dengan rasa kecemburuan faktor ekonomi nyata,hidup penuh dengan ketidakjelasan pemikiran dan iman,hanya sebagai tanda kiasan dan hiasan semata hidup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar